PT Rekayasa Cakrawala Resources atau yang lebih dikenal dengan RECARE telah berdiri sejak 27 Juli 2006, di Jakarta oleh PT Rekayasa Teknik, salah satu perusahaan teknik terkemuka di Indonesia dan merupakan grup anak perusahaan BUMN Rekayasa Industri.
Dalam podcast perdana RECARE Talks bersama host Eli Sabakhtani, Edward Leonard Parsaoran yang kini merupakan Direktur RECARE menjelaskan, ketika awal dirintis RECARE masih bernama Rekayasa Enginering Drafting School (REDS). Seiring dengan perkembangan waktu Recare terus tumbuh dan berkembang hingga kini memiliki berbagai lini bisnis yang saling berkaitan.
“Awal berdiri itu mengakomodir khususnya di bidang enginering untuk trining drafting sschool,” jelas Edward. Lalu perusahaan mengalami banyak perkembangan, “Mengalami metamorfosis dari training drafter menjadi desainer dan engineering,” tambah Edward.
RECARE sendiri merupakan Group Anak Perusahaan BUMN yang bergerak untuk pendidikan dan pelatihan serta menjadi supply tenaga kerja bagi mitra BUMN. Sebut saja mitra untuk PT Rekayasa Industri (Rekind) yang bergerak dalam bidang rancang bangun industri atau yang dikenal sebagai engineering, procurement, dan construction (EPC). Hal ini senada dengan yang dijelaskan Edward, “Rekind lebih butuh mentor supply, supplay manpower terutama yang berurusan dengan EPC project jadi lini bisnisnya ada training, mentor suppy, opportunity business untuk building management. Tapi kita lebih besar di manpower supply,” jelasnya.
Tonton video RECARETalks: Kenal Lebih Dekat PT RECARE, hingga Bidik Peluang Pembangunan Ibu Kota Nusantara
Pada dasarnya Recare bergerak dalam bidang manpower untuk melatih dan meyalurkukan sumberdaya yang dibutuhkan di bidang Engineering untuk mitra BUMN-nya. Namun tidak menutup kemungkinan adanya perluasan bisnis dari recare. “Untuk saat ini masih internal, kedepanya kita bisa untuk keluar,” ungkap Edward dalam wawancaranya. Meski masih di ranah internal RECARE telah menghandle sumberdaya manusia dalam jumlah yang besar. “Sudah sekitar 3000 orang di seluruh Indonesia, paling banyak di proyek Rekind. Ada 35 posisi mulai dari low skill sampai ke high skill” ungkap Edward.
Selain bermitra dengan Rekind, Racare juga turut menyediakan sumber daya engineer melalui kerjasamanya dengan perusahaa lainnya. “Recare sudah bekerjasama dengan PKT, Freeport , PIM , Pusri, PLN engineering, dan masih banyak lagi,” jelas Edward. Bahkan Recare turut serta dalam mengelola proyek pembangunan dan pemindahan Ibukota Negara (IKN), “Di Balikpapan sekarang ada megaproject RDMP balikpapan, projeck pemindahan ibukota IKN, juga pembangunan industri,” tambahnya.
Dalam proyek IKN sendiri Recare telah melakukan serangkaian kerjasama untuk mempermudah tercapaian tujuan pembangunan. Edward kembali menjelaskan, “Jadi kita sendiri telah bekerjasama dengan Perumda untuk mengcapture peluang jangka panjang disana. Mulai dari preparation, infrastucture awal, misal membangun akses jalan, sumber air. Peran kita disana adalah untuk mensupply manpower,” jelasnya. Dari segi sumber daya pun Recare akan mengutamakan SDM lokal, dan melengkapinya dengan non lokal jika masih belum bisa terpenuhi.
Besarnya RECARE seperti sekarang ini bukan tanpa halangan dan kendala. Terlebih ketika memasuki masa-masa pandemi. Pada masa pandemi perusahaan harus bisa survive agar terus bisa melanjutkan bisnis misalnya dengan kerja jarak jauh atau work from home. “Kita terbiasa dengan work from home karena himbauan pemerintah bahkan sekarang kita work from anywhere. Kita juga selalu memastikan bisnis berjala dengan memamtuhi aturan pemerintah juga protokol kesehatan kaena kita mau hasil yang maksimal untuk klien,” jelas Edward ketika ditanya mengenai keadaan Recare ditengah pandemi.
Saat ditanya mengenai keunggulan RECARE dibanding perusahaan yang bergerak di bidang jasa sejenis Edward mengungkapkan bahwa Recare memiliki banyak jejaring, serta lebih efisien dari segi waktu dan biaya. “Kerja sama juga dengan rekayasa dalam hal menyediakan software yang digunakan untuk support pekerjaan terutama dalam engineering. Kerja sama dengan Global university dan lembaga training aplikasi pendidikannya,” ungkap Edward. Hal ini membuat Recara menjadi sangat efisien, “Untuk training tidak harus datang ke Kalibata tapi bisa dilakukan dimana saja dengan biaya yang efisien dan kompetitif. Trainernya juga adalah ahli yang sudah berkecimpung di bidangnya ” tambahnya.



